KONSISTEN bersepeda saban hari, Sabar Setiabudi Noer merasakan manfaat luar biasa. Menurut pria berusia 75 tahun ini, kini tubuhnya lebih terasa enteng. Baju-bajunya yang dulu sesak, jadi longgar saat dikenakan.
Kendati pamor bersepeda tak lagi semencorong beberapa tahun lalu, Setiabudi masih tetap setia bersepeda menyusuri jalanan Jakarta. Foto-foto aktivitas olahraganya itu kerap ia unggah di grup Gowes Gica Gembira (3G).
Tatkala tren bersepeda masih memancar terang, setiap pagi ia mampu menggenjot sepeda kesayangannya hingga 2,5 jam dengan jarak tempuh sekitar 50 km. Tak heran jika Setiabudi selalu menduduki posisi teratas di aplikasi pengukur jarak sepeda grup 3G. Ia, misalnya, tercatat pernah menempuh jarak 247,9 km hanya dalam hitungan hari.

Jika dirunut, aktivitas gowes Setiabudi diawali saat pandemi merebak di sekujur negeri. Kala itu, tren bersepeda booming bukan kepalang. Para tetangganya pun satu persatu mulai bermunculan mengayuh sepeda.
"Saat itu saya jadi ikut termotivasi bersepeda. Berjalan kaki dari Gica, saya berangkat membeli sepeda di sebuah toko di Pulogadung. Pulangnya, sepeda tersebut saya naiki," kenang Setiabudi.
Punya sepeda lipat anyar bermerek Exotic, semula ia hanya mampu mengayuhnya pelan-pelan di seputaran Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta Timur. Ketika kawan-kawannya mengajak bersepeda ke kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, ia harus ditemani di titik akhir.
Namun, Setiabudi ogah menyerah. Semangatnya malah kian terpacu. Jarak gowes yang ditempuhnya lambat laun jadi semakin jauh. Ia lalu membeli sepeda gunung bermerek Mercedez Bens. Menambah koleksi sepeda, pola berlatih Setiabudi jadi meningkat. Tak lama, ia kembali membeli sepeda gunung bemerek Police berwarna putih.

Tatkala bandul tren mulai bergerak ke arah sepeda road bike (RB), Setiabudi tak mau ketinggalan. Dia kembali merogoh kocek untuk membeli sepeda baru.
Tak hanya bersepeda dengan komunitasnya di lingkungan Gica, dia juga terpacu mengikuti event berskala besar. Bersama Desky Wijaya, tetangganya di Gica, Setiabudi pernah mengikuti ajang Feudax. Menjelajahi jalur sepanjang 100 km, ia tertantang menyelesaikan event berkonsep mandiri (unsuported ride) tersebut.
"Melalui ajang seperti ini, selain mampu meningkatkan skill, para pesepeda dari berbagai komunitas bisa saling memperkuat tali persahabatan," katanya.
Kini tatkala para pesepeda lain lebih sering memarkir sepedanya, Setiabudi masih tetap konsisten mengayuh beragam sepeda koleksinya. (*)
