MASALAH sampah di Jakarta tak pernah habis untuk diceritakan. Bayangkan, saban hari kota ini memproduksi lebih dari 7.000 ton sampah, yang sebagian besar berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Sampah-sampah yang menggunung itu di antaranya didominasi sampah organik dari rumah tangga—sisa makanan, sayur mayur, buah, hingga cangkang telur—yang sebetulnya bisa diolah kembali.
Sayang, minimnya kebiasaan memilah sampah membuat potensi tersebut jadi terbuang percuma. Bahkan, efek lainnya bisa memicu persoalan lingkungan yang lebih besar, mulai bau menyengat, hingga pencemaran air dan tanah.
Di tengah kondisi tersebut, secercah harapan muncul dari lingkungan Apartemen Gading Icon (Gica) dan Oak Tower, Pulogadung, Jakarta Timur. Sekelompok warga di sana mulai mengambil peran nyata dengan melakukan langkah sederhana namun berdampak besar: memilah sampah dari unit-unit hunian apartemen.
Gerakan ini digagas oleh Komunitas Ecogreen, sebuah komunitas warga yang saat ini terdiri dari 13 kepala keluarga. Sejak enam bulan lalu, dengan dukungan Badan Pengelola (BP) Gica, Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) Gica, serta Dinas Lingkungan Hidup, mereka mengelola sampah organik secara mandiri. Di tangan mereka inilah, sampah-sampah organik yang telah dipilah lalu dikumpulkan dan dibawa oleh petugas setiap satu minggu sekali. Sampah tersebut lantas diolah melalui proses fermentasi untuk dijadikan pupuk kompos.
Perlahan namun pasti ikhtiar itu menghasilkan dampak yang terukur. Selama setengah tahun berjalan, Komunitas Ecogreen telah mengumpulkan 450 kilogram sampah organik yang berhasil diolah menjadi pupuk kompos sebanyak 15 kilogram. Saat ini kompos tersebut telah dimanfaatkan untuk menyuburkan taman di area Gading Icon.
"Pemanfaatan pupuk kompos hasil pilah sampah organik ini kami manfaatkan untuk menyuburkan taman di Gica," terang Fransisca Santi, salah satu penggerak Komunitas Ecogreen.

Untuk bisa berpartisipasi dalam komunitas ini sangat gampang. Cukup membayar iuran Rp 15 ribu per bulan, setiap keluarga bisa ikut ambil bagian dalam upaya menjaga lingkungan yang lebih lestari.
Menurut Hasty dan Yayuk, pegiat komunitas ini, pihaknya membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga Gica dan Oak Tower yang ingin bergabung dalam gerakan pilah sampah ini.
Apa yang dilakukan warga Gading Icon dan Oak Tower ini menunjukkan bahwa solusi krisis sampah tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Perubahan justru bisa diawali dari unit hunian sendiri, dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Salah satu hasilnya, ya itu tadi, dari sisa dapur rumah tangga warga, lahir ruang hijau yang lebih sehat dan terawat.
Di tengah darurat sampah Jakarta, tentu inisiatif warga seperti ini layak diapresiasi dan ditiru. Sebab, untuk mewujudkan kota yang bersih dan sehat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga hasil dari kesadaran kolektif warganya.
"Yuk, bapak dan ibu, mari ikut bergerak. Mulai pilah sampah hari ini, untuk lingkungan yang lebih baik esok hari," seru Komunitas Ecogreen melalui flyer yang didistribusikan di grup-grup warga. (*)
