MENGENAKAN kemeja putih, celana pantalon hitam, serta sepatu kulit yang warnanya telah memudar, Sarif Abdul Rohman tampak sigap menyerok daun-daun kering yang berguguran di kolam koi Gading Icon (Gica). Satu persatu daun itu ia angkat, agar kolam yang menjadi area favorit warga tersebut tetap bersih dan nyaman dipandang.
Kolam koi ini bukan fasilitas biasa. Dulu kolam yang terletak di area belakang lobi B1 itu dibangun dari patungan warga, dan kini dirawat penuh tanggung jawab oleh Sarif. Selain menjaga kebersihannya, ia rutin menguras kolam dan memberi makan puluhan ikan koi yang tampak hidup makmur di sana.
“Kolam harus bersih, sirkulasi airnya juga harus bagus. Makanannya pun harus diperhatikan supaya ikan-ikan ini tidak kurus,” tuturnya.
Ketelatenan itu berbuah hasil. Ikan-ikan koi bertubuh memanjang bak torpedo itu tumbuh sehat dan lincah, menjadi pemandangan yang menenangkan bagi siapa saja yang singgah di sana.
Tak hanya kolam koi, Sarif yang kini berusia 40 tahun juga dipercaya merawat kolam renang warga. Tugasnya bukan sekadar menjaga kebersihan air dan area sekitar. Ia juga kerap ikut bersiaga memastikan ketertiban serta kenyamanan pengunjung, termasuk mengingatkan warga agar berenang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Jika belakangan tugasnya tak jauh dari air dan kolam, Sarif merasa memang sudah begitu jalannya. “Alhamdulillah, mungkin rezeki saya memang tidak jauh-jauh dari air,” ujarnya.

Bagi Sarif, Gading Icon bukan sekadar tempat bekerja. Selama 15 tahun mengabdi, kawasan hunian ini telah menjadi rumah keduanya. Ia hafal betul setiap sudutnya—dari selasar hingga trotoar luar. “Gica bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi sudah seperti rumah sendiri,” lanjut Sarif.
Perjalanan pengabdiannya pun tidak pernah terpaku pada satu pekerjaan. Sejak awal bekerja, Sarif menjalani beragam tugas: membuat kinclong toilet, bersih-bersih kantor Badan Pengelola, menjaga playground, menyapu lobi dan selasar, merawat taman, hingga memastikan trotoar di sekitar Gica tetap bersih dan nyaman dilalui warga. Semua ia kerjakan dengan tekun, nyaris tanpa keluhan.
Rutinitasnya dimulai sejak pagi buta. Setiap hari Sarif berangkat dari rumah kos pukul 05.30 dan mulai bekerja pada pukul 06.30. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru. Selain itu, terlalu lama berada di kamar kos kerap membuatnya jenuh. “Lebih enak langsung ke tempat kerja,” ujar Sarif.
Dari kerja keras bertahun-tahun itu, Sarif sempat mewujudkan impian sederhana: memiliki sepeda motor. Ia membelinya dari hasil menabung sedikit demi sedikit. Kebetulan pula, kala itu ia dan kawan-kawan lain sesama pekerja Gica mendapatkan kenaikan gaji.
Sayang, motor itu tak bertahan lama. Karena kebutuhan mendesak, motor kesayangannya terpaksa dijual kembali.
Meski begitu, Sarif tak kehilangan harapan. Di balik hidupnya yang sederhana, tersimpan keinginan besar yang terus dijaganya. Ia berharap suatu hari nanti bisa bersanding dengan gadis pujaan hati yang disebutnya tengah berjuang sebagai pekerja migran di luar negeri.
Bagi Sarif, bekerja dengan ikhlas dan penuh kesabaran adalah bagian dari lelaku hidup. Selama masih diberikan kesehatan, ia tak akan berhenti melangkah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. (*)
